Sabtu, 31 Januari 2009

Bayangan kematian

Aku takut pada cermin.



Terutama pada setiap bayangan orang-orang yang terpantul di dalamnya…



Jika ada satu hal yang dapat kuenyahkan dari dunia ini, itu adalah pantulan bayangan. Entah itu di cermin, kaca mobil, ataupun benda-benda mengkilap lainnya yang dapat memantulkan bayangan setiap objek di dalamnya dengan cukup jelas.



Bayangan-bayangan tersebut sungguh membuatku gila! Tak jarang sumsumku berdesir setiap saat secara kebetulan aku melewati objek mengkilat. Terutama jika aku melihat bayangan orang lain selain diriku sendiri di dalam cermin tersebut. Mungkin hal ini dianggap aneh bagi kebanyakan orang. Tetapi apa yang terjadi tiga tahun yang lalu benar-benar telah mengubah hidupku sepenuhnya.

Waktu itu aku baru saja merayakan ulang tahunku yang kelima belas. Siang itu aku menemani salah seorang bibiku ke salon langganannya. Sebenarnya aku agak malas menemani bibiku yang satu itu. karena jika ia sudah keasyikan mengobrol, gempa bumi yang super dahsyat atau hujan batu pun tak akan menghentikan ocehannya yang super lengkap, dari isu seputar kenaikan BBM, gosip artis, sampai si Chiko yang suka menguber-uber anjing betina tetangga sebelah kami. Pokoknya ampun-ampunan deh bibiku yang satu itu.



Maka dengan berbekal komik, sebatang coklat, dan MP4 yang baru kubeli dua hari sebelumnya, akhirnya dengan setengah hati aku pun menyetujui untuk ikut bibiku ke salon. Nggak apa-apalah, pikirku, siapa tahu bibiku bersedia mentraktirku pizza sepulang kami dari salon nanti, sebagai upahku menemaninya hari itu.



Akhirnya setelah terkantuk-kantuk di dalam tuk-tuk (sejenis kendaraan umum di Thailand) selama beberapa saat, kami tiba juga di gedung bercat merah muda itu. Bangunan berarsitektur Portugis itu masih kelihatan seindah dan semenarik dua tahun sebelumnya, ketika terakhir kali aku menemani ibu dan bibiku ke tempat tersebut. Dengan dinding luar berbalutkan relief bunga teratai ungu dan merah, salon itu berdiri megah di tengah himpitan gedung-gedung perkantoran lain yang menjulang tinggi di sekitarnya.



Salon itu tidak sepenuh biasanya. Maklumlah. Mungkin karena hari itu hari Rabu pagi. Dari kaca jendela luar hanya terlihat beberapa orang remaja putri di dalam dan seroang nyonya muda yang sedang di-crembath. Syukurlah, kataku dalam hati. Moga-moga bibiku cepat selesai. Aku sudah tak sabar ingin menikmati pizza kegemaranku!



Begitu kami melangkah masuk, aroma wewangian khas Thailand segera menyergap kehadiran kami berdua. dan seorang wanita muda berbusana daerah menyambut kami dengan senyum ramahnya. Ia dengan sigap mengantarkan bibiku ke ruang sebelah dalam sementara aku segera memarkirkan pantatku di kursi empuk di sudut ruangan dan mengeluarkan MP4 biru mudaku. Detik berikutnya aku telah asyik terlarut dalam komikku sambil mengunyah coklat dan mendengarkan lagu.



Waktu berlalu dengan cepat. Kira-kira satu jam kemudian bibiku sudah hampir selesai. Ia sedang mematut-matut dirinya di depan cermin. Aku bangkit dari kursi dan menghampirinya. Sekilas aku melirik ke arah cermin. Pada saat itulah aku melihat sesuatu yang aneh.



Wajah penata rambut yang pada saat itu sedang menyemprotkan hair spray pada rambut bibiku terlihat menyeramkan. Pelipis sebelah kirinya terlihat mengucurkan darah dan membasahi kemeja putihnya. Aku tersentak kaget! Segera aku memalingkan wajah dari cermin dan memperhatikan sang penata rambut yang berdiri tepat di samping kananku. Tapi ia terlihat baik-baik saja! Tak ada luka sedikit pun pada wajahnya dan kemejanya putih bersih.



Aku mulai kebingungan. Aku kembali memandang cermin. Dan apa yang kulihat tetap sama dengan apa yang kulihat pertama kali. Wajah dan baju yang merah oleh ceceran darah yang mengucur semakin deras!



Aku tak tahan lagi! Aku segera mengubah posisi berdiriku agar aku tak dapat melihat bayangannya di cermin. Semua ini benar-benar membuatku gila! Apakah ada yang salah dengan penglihatanku? Ataukah ini hanya imaginasiku belaka?



Tak lama kemudian bibiku selesai dan kamipun pulang ke rumah melalui rute yang sama. Sepanjang perjalanan aku mengunci bibirku rapat-rapat. Pikiranku benar-benar kalut! Aku masih bingung dengan apa yang baru saja kualami.



Selang beberapa minggu kemudian, bibiku kembali ke salon itu untuk creambath. Pada saat itulah kami mendengar kabar bahwa salah seorang penata rambut salon tersebut telah meninggal dunia dua minggu sebelumnya karena kecelakaan mobil dan ia adalah penata rambut yang waktu itu melayani bibiku! Katanya sewaktu ia hendak pulang ke rumah pada hari itu, di tengah jalan ia tertabrak oleh seorang pengendara motor ugal-ugalan sehingga tubuhnya terpental ke aspal dan kepalanya terbentur keras sehingga darah mengucur dari wajahnya. Orang-orang segera membawanya ke rumah sakit terdekat, tetapi ia meninggal dunia dalam perjalanan karena luka-lukanya sangat parah dan ia mengalami pendarahan hebat di kepalanya.



Aku tertegun.



Mendadak aku teringat penglihatan yang kualami waktu itu. Apakah itu merupakan firasat akan terjadinya sesuatu? Aku berusaha melupakan peristiwa tersebut dan kuanggap hal itu sebagai suatu kebetulan belaka. Sampai beberapa bulan kemudian....



*****



Hari sudah siang ketika aku dan Irene, teman sekelasku, pulang dari sekolah. Rumah kami berdekatan, sehingga hampir setiap hari kami pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Dalam perjalanan pulang kami memutuskan untuk mampir ke mal terdekat untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah.



Sewaktu kami melewati sebuah butik pakaian, secara kebetulan aku menoleh ke arah kaca etalase. Dan napasku tersentak. Aku dapat melihat bayanganku sendiri di kaca itu, tetapi di sampingku bukan bayangan Irene, melainkan ayahnya. Ia terlihat pucat dan sedih.



Jantungku berdegup keras. Aku teringat kembali peristiwa yang kualami beberapa bulan sebelumnya bersama bibiku. Aku tak tahu apakah hal yang sama akan terulang lagi. Aku tak berani mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu padanya. Aku tak ingin ia sedih memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi.



Malam itu aku baru saja akan pergi tidur ketika tiba-tiba telepon berdering. Ketika kuangkat, terdengar suara Irene. Ia tersedu-sedu. Aku langsung merasakan firasat buruk. Di sela isak tangisnya, ia berkata terbata-bata,



"Phrai, ayahku ..." ia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia hanya terisak pelan.



"Ada apa dengan ayahmu? Apa yang terjadi?" Mendadak aku merasa gugup dan tegang. Tanganku gemetaran. Pikiranku benar-benar kalut. Apakah ini…?



Tidak mungkin! Jangan!



Belum sempat aku berpikir lebih jauh, isakan Irene kembali terdengar.



"Ayahku tak sadarkan diri. Beberapa saat yang lalu ia mendapat serangan jantung. Kini ia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."



Aku tersentak kaget. Seketika tubuhku lunglai dan jantungku berdegup tak karuan. Oh Tuhan, jangan biarkan firasatku menjadi kenyataan,, doaku dalam hati.



"Irene, kita berdoa saja, semoga beliau tidak apa-apa," kataku sambil menarik napas panjang.



"Suster yang merawat ayahku mengatakan bahwa ayahku dalam kondisi kritis karena ia terlambat diberikan pertolongan," Irene berkata lirih sambil terisak-isak.



Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain menghibur sahabatku itu. Malam harinya aku berdoa semoga firasatku meleset dan segalanya akan baik-baik saja. Aku sungguh-sungguh berusaha menghibur diriku sendiri bahwa apa yang kulihat waktu itu di kaca etalase toko bersama Irene adalah halusinasiku saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang telah terjadi pada ayah Irene. Tetapi semakin aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, semakin besar keraguan yang tumbuh jauh di lubuk hatiku bahwa apa yang kualami sebelumnya tidak akan terulang kembali.



Keesokan harinya aku kembali mendapat kabar dari Irene. ia mengabarkan bahwa ayahnya telah meninggal dunia malam itu juga. Aku sangat sedih mendengarnya. Terlebih-lebih karena aku telah mendapat pertanda tentang hal itu sebelumnya namun tak ada yang dapat kulakukan untuk mencegah musibah itu. Apakah ini suratan takdir? Jika ya, apa gunanya aku mendapatkan firasat itu jika aku sendiri tak dapat melakukan apa-apa untuk mencegahnya? Mengapa? Mengapa? Beribu tanda tanya berkecamuk dalam benakku, namun aku sungguh tak kuasa untuk menjawab semua pertanyaan itu. Semua peristiwa ini benar-benar membuatku stres!



Semenjak kedua peristiwa itu, aku masih mendapat penglihatan-penglihatan lain yang sering kali membuatku dibayangi perasaan bersalah, sedih, dan takut. Tak jarang aku melihat bayangan-bayangan menyeramkan dari orang-orang di sekililingku yang tak kukenal. Entah itu bayangan pedagang sayur yang kebetulan lewat di dekatku, atau bahkan seekor kucing liar yang melintas di hadapanku. Semua bayangan mereka sungguh membuatku merana!



Aku hanya bertanya-tanya, kapan kiranya, suatu hari nanti, aku akan melihat bayangan kematianku sendiri. Apakah hari ini? Besok? Lusa? Ataukah tahun depan? Atau bahkan sesaat lagi?



Aku hanya berharap semoga aku siap menghadapi hari itu.



Hari ketika bayanganku menjadi kenyataanku…

Read more...

horor mas

Malam itu di asrama anak laki-laki panas sekali. Dan Husein masih belum bisa tidur. Berkali-kali ia membalikkan badannya di tempat tidur sambil mengumpat-umpat.



"Kenapa aku harus tidur secepat ini? Aku kan sudah sehat!"



Sudah tiga hari ia menempati klinik asrama karena radang tenggorokan yang dideritanya. Sebenarnya sore itu dokter sudah menyatakan bahwa ia sudah sembuh, tapi ia hanya mengijinkan untuk kembali ke kamarnya esok paginya.



"Besok saja ya, sekarang kan tanggung, kamarmu yang dulu belum dibersihkan. Nanti kalau kamu sakit lagi gimana? Kamuggak mau penyakitmu bertambah parah kan?" Dokter Hamed berujar sambil tersenyum. Suster Ema yang berdiri di samping pak dokter ikut mengiyakan sambil mengacak-acak rambut Husein.



“Betul, Nak. Tadi waktu saya ke sana ternyata dinding sebelah kananmu masih dicat, dan kemungkinan baru selesai besok pagi. Sabar ya, Nak. Lagipula kamarmu yang ini kan jauh lebih luas dan jendelanya pun jauh lebih besar. Besok saja ya, Nak?”



Husein terpaksa menurut sambil bersungut-sungut. Sialan, umpatnya, bisa mati kebosanan aku di sini. Tinggal selama tiga hari di klinik asrama itu sendirian yang letaknya bersebelahan dengan kamar ibu asrama terasa tiga tahun baginya. Tidak ada televisi dan radio. Sungguh membosankan! Setiap hari yang dikerjakannya hanyalah membaca buku-buku cerita usang yang dipinjamnya dari Syahril, anak tukang kebun di asrama tersebut.



“Anak Kancil Bertemu Dengan Berry si Beruang Coklat..” Husein menggumam sambil jari jemarinya menyeruak halaman demi halaman buku cerita lusuh yang dipegangnya tersebut. Apa remaja seumur dia masih suka membaca buku cerita anak-anak seperti ini? Husein menggeleng-gelengkan kepalanya sambil diam-diam menertawakan Syahril yang memang penampilannya lugu dan polos. Pantas dia masih menjomblo, Husein tersenyum sambil membayangkan Syahril dengan sandal jepit biru dan kaos oblong kedodoran yang hampir setiap hari dikenakannya tersebut.



Hawa di ruangan kecil di samping kamar ibu asrama tersebut masih terasa panas. Tetapi Husein sudah tidak mengindahkannya lagi. Ia sedang asyik dengan cerita Kancil dan Beruang yang terdapat di hadapannya. Baginya tiada jalan lain untuk membunuh waktu yang membosankan tersebut dengan memaksakan dirinya memahami dan terlarut dengan setiap aluran cerita yang terpaksa direguknya kata demi kata.



Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah satu pagi. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam bersahutan dari luar jendela kamarnya diiringi sesekali suara lembut hembusan angin yang bertiup di sela-sela cabang pepohonan akasia di samping kanan jendela kamar bercat putih tersebut.



Husein memandang ke arah jendela di sampingnya yang terbuka setengah. Angin malam berhembus masuk ke dalam kamarnya yang juga dicat putih. Huh, masih terasa panas, keluhnya sambil mengusap keningnya yang agak berkeringat. Kipas angin di atas kepalanya sudah lama tidak berfungsi lagi. Tangannya bergerak untuk membuka jendela itu lebih besar lagi ketika ia menangkap sesosok bayangan putih berkelebat di atas pohon tepat di seberang kamarnya.



Husein menggosok-gosokkan matanya. Apa itu, pikirnya penasaran.



Husein kini duduk dengan tegak di atas ranjangnya yang berderit-derit setiap kali ia menggerakkan tubuhnya yang sedikit gempal. Sosok itu kini terlihat jelas. Ia adalah sesosok wanita muda cantik yang sedang duduk duduk di atas dahan yang tinggi sambil menggerak-gerakkan kakinya dan bersenandung pelan. Seolah-olah ia sedang berayun-ayun di atas ayunan. Rambutnya terlihat hitam lurus ikut bergerak-gerak ditiup angin yang berhembus pelan. Parasnya lembut dan cantik. Wanita misterius itu terus saja asyik bersenandung seolah tak memperhatikan sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.



Husein menatapnya tak berkedip. Jantungnya berdegup keras. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Tangannya gemetaran. Otaknya seakan berhenti berputar. Dia hanya duduk terpaku menatap pemandangan di depannya.



Sekonyong-konyong wanita itu berhenti bersenandung dan dengan tiba-tiba menatap lurus ke arah Husein yang masih duduk terpaku di dalam kamarnya. Tatapannya tajam dan menusuk. Setajam tatapan elang yang hendak menerkamnya bulat-bulat dari atas pohon. Suasana bertambah hening mencekam. Husein merasakan seolah darahnya berhenti mengalir.



Sebelum Husein sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba wanita itu ‘terbang’melayang dari atas pohon tempatnya bertengger dan detik berikutnya wajahnya sudah berada dekat sekali di jendela. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Wanita itu berdiri begitu dekat dengan wajahnya sehingga Husein bisa merasakan hembusan hawa dingin dari sosok di hadapannya itu. Saat berikutnya tiba-tiba saja wanita itu tersenyum menyeringai. Wajah ayunya digantikan oleh paras yang tiba-tiba terlihat begitu menyeramkan. Taringnya yang panjang dan runcing menyeruak dari senyumnya yang jahat!



Husein tersentak! Dengan refleks ia menutup jendela dan meguncinya serta menutup tirainya rapat-rapat. Tubuhnya gemetaran hebat di atas ranjang. Detik berikutnya ia menjerit sekuatnya sambi berteriak-teriak minta tolong dan menyelubungi dirinya dengan selimut bergaris hijau yang selama ini tidak pernah dipakainya. Tapi kemudian ia teringat bahwa ibu asrama sedang keluar kota dan ia tidak tahu ke mana suster centil yang seharusnya berjaga di kamar sebelah. Sial! Sial! Sial! Sejuta kali SIAL! Ia berkali-kali mengumpat dalam hati.



Kemudian ia berusaha mengucapkan doa-doa yang pernah dipelajarinya selama ini. Entah karena gugup atau lupa, tidak satu pun doa-doa yang sempurna diucapkannya.



Tapi ia tidak peduli. Ia terus berusaha keras mengucapkan doa-doa sebisanya sampai ia kelelahan dan jatuh tertidur di balik selimutnya yang tebal. Beberapa saat kemudian ia terbangun karena merasa kegerahan. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Pelan-pelan ia membuka selimut yang menyelubungi kepalanya sedikit demi sedikit dan mengintip keadaan kamarnya. Keadaan sunyi senyap. Jam dinding berdetak pelan dan lembut. Husein melirik ke arah jam tersebut. Sudah pukul 2.15 pagi.



Ia menyibakkan selimutnya dan berusaha untuk tidur lagi ketika ia mendengar suara langkah sepatu berhak tinggi di koridor di depan kamarnya. Mungkinkah itu ibu asrama yang baru datang dari luar kota?



Husein baru saja memejamkan matanya ketika ia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk ke dalam.



"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sayang?" Suara suster Jane yang genit yang dikenalnya selama ini menenangkannya. Mendadak ia merasa lega karena ia tidak sendirian lagi di kamarnya. Parfum suster Jane mulai menyeruak memenuhi ruang tersebut.



"Eh, baik, Sus. Suster dari mana? Kok sudah selarut ini belum tidur?" Husein berkata. Matanya terkesima tatkala melihat tubuh suster Jane yang terbalut erat di balik seragam putihnya yang terlihat sangat ketat dan sesak. Ia kelihatan lebih cantik dari biasanya.



"Aku baru saja menemai Bu Christin menonton telivisi dan lalu aku jalan-jalan di luar sebentar, soalnya udara panas sekali sih hari ini," Suster Jane berkata pelan sambil mengusap-usap dahi Husein yang basah oleh keringat.



“Kamu sendiri kok belum tidur, Sayang?” Suster muda yang terlihat sangat cantik dan seksi itu tersenyum lagi. Ia begitu lembut dan penuh perhatian. Tangannya yang halus terasa sangat menentramkan hati Husein yang segera melupakan kejadian menyeramkan sebelumnya. Kini jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Bukan karena takut. Tapi karena tubuh Suster Jane terlihat semakin indah tatkala ia mendekat untuk mengecup keningnya. Tak lama Husein pun merasa mengantuk dan ia mulai menutup matanya.



"Tidurlah, Sayang..." Suster Jane berkata lembut. Rambutnya yang harum menyapu lembut wajah Husein.



Husein membuka matanya kembali untuk mematikan lampu baca yang ada di samping tempat tidurnya ketika tanpa sadar ia melihat ke arah lantai dan menyadari bahwa yang selama ini dikiranya Suster Jane ternyata kakinya tidak menapak pada tanah melainkan melayang di udara!



Seketika Husein menjerit dan meloncat dari tempat tidurnya dan segera berlari di koridor sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Ia berlari ke arah kamar Pak Singh, tukang kebun, yang kebetulan berada tidak jauh dari kamarnya. Ia menggedor-gedor kamarnya sambil berteriak-teriak ketakutan. Matanya nanar dan nafasnya terasa sesak.



Sesaat kemudian Husein sudah berada di dalam kamar Pak Singh, yang masih berusaha menenangkannya. Sementara itu guru-guru dan teman-temannya yang lain yang terbangun oleh teriakannya ikut berdesak-desakan di kamar Pak Singh yang sempit dan mengerubunginya. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.



"Tenang, tenang... Biarkan ia minum dulu," kata Pak Ahmad sambil menyodorkan segelas air putih. Husein menerima air yang disodorkan dan segera meminumnya. Tanpa disadarinya tiba-tiba ia merasa sangat haus, dan ia segera menghabiskan air tersebut. Pak Ahmad dan beberapa staf lain yang sedang bertugas malam itu memandanginya dengan cemas.



“Kamu tidak apa-apa, Nak?”



Husein menggelengkan kepalanya lemah. Kini ia sudah jauh merasa lebih baik dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian setelah ia tenang, ia menceritakan apa yang telah dialaminya malam itu. Semua berpandang-pandangan.



"Pasti itu Aisyah. Ya, itu pasti dia...," orang-orang ribut menggumam.



“Aisyah? Siapa dia?” Dahi Husein berkerut.



Kemudian Pak Singh menceritakan bahwa beberapa tahun yang silam terdapat seorang siswa yang dikeluarkan dari asrama karena berpacaran dengan anak salah seorang tukang kebun waktu itu. Hubungan mereka tidak direstui oleh kedua belah pihak sehingga pihak asrama terpaksa mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah. Sejak saat itu anak laki-laki itu tak lagi menunjukkan batang hidungnya di asrama tersebut sehingga Aisyah merasa putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di atas pohon tepat di depan kamar klinik asrama. Tubuhnya yang telah dingin dan kaku ditemukan pada pagi hari keesokan harinya oleh ayahnya sendiri yang telah mencarinya ke mana-mana malam sebelumnya.



Tak lama setelah peristiwa tersebut beberapa siswa dan guru menemui hal-hal ganjil dan menyeramkan di sekitar pohon tersebut, terutama pada malam bulan purnama seperti apa yang dialami Husein pada malam itu.



Bahkan tahun sebelumnya ada dua orang siswa yang sedang melewati koridor di dekat klinik asrama secara kebetulan melihat seorang gadis berpakaian suster yang wajahnya mirip dengan Aisyah. Tetapi waktu didekati, gadis itu tiba-tiba menghilang. Atau, beberapa orang tukang yang sedang membetulkan pipa di halaman belakang kadang-kadang melihat sesosok wanita muda berpakaian putih sedang duduk berayun-ayun di atas pohon sambil bersenandung riang dan tertawa-tawa kecil. Tapi wajah pucatnya menunjukkan kesedihan hatinya yang entah kapan dapat terobati…

Read more...

Ternyata Hati Ku Tak Bisa Berdusta

Meski ku coba melupakan mu
Tetap tak bisa ku menghapusmu
Tulus cintaku telah kuberikan padamu

Ku takan sesali mencintai dirimu
Wanita terindah pernah jadi mimpiku
Tak pernah menyesal mengenal dirimu
Walau Jalan yang kutempuh tak tertuju padamu

Meskipun kini kau kuhindariTapi hatiku tak bisa kupungkiri
Maaf ku terlalu mencintaimu
Ku mencintaimu karena hatiku mencintaimu

Telah terukir dirimu dalam hatiku
Telah terangkai mimpi-mimpiku bersamu
Bila kumiliki dirimu untuk bahagia
Tak ada niatku untuk pernah melukaimu

Tak pernah kupahami rasa ini
Walaupun selalu kuterima lelah dan duka karena menyayangimu
Tapi perihku selalu membuatku bahagia
Biarlah tetap terjaga rasa ini hingga akhir nafasku ini

Read more...

persahabatan

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiripun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.

Read more...

saat terakhir

Pada Saatnya,
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu

Pada Saatnya,
Di ujung perjalann
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai

Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan


Read more...

Sajak Rindu

Pernahkah kau bayangkan
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda

Pernahkah kau bayangkanDisetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja

Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku


Read more...

Madah cinta fantasi

Wahai sayang ku….!
Jikalau disatu hari nanti….
Engkau sedang merasa sedih dan berdukacita
Serulah aku!
Pasti aku akan segera datang disisi mu
Walaupun aku tidak dapat mengembirakan mu ketika itu
Yang pastinya…
Aku akan turut serta berduka menangis bersama2 mu!
Wahai sayang ku….!
Jikalau disatu hari nanti
Engkau ingin lari berpindah ketempat lain Serulah aku!
Kerana aku tidak akan menghalang niat mu
Cuma aku….
Ingin juga lari berpindah ketempat lain bersama2 mu!
Wahai manis ku….!
Jikalau disatu hari nanti
Engkau lihat lidah ku sudah menjadi bisu dan kelu
Segeralah datang kepada ku
Kerana ketika itu….
Aku sedang didalam kerinduan
Dan sedang tersangat dahaga
Memerlukan diri mu dan kehadiran mu…!

Read more...

arti hidup penuh cinta

adakah seorang insan yang mengerti..
apakah arti kehidupan ini…
pernah kucari arti cinta sejati
namun yang kutemui hanyalah mimpi..
suatu mimpi kosong yang tak bertepi
apakah salah hati ini
ingin memiliki sebuah cinta sejati..
apakah arti sebuah persahabatan sejati
apakah itu juga sebuah mimpi..?
jika benar, apalah arti semua ini..
sudah banyak hari kujalani
tanpa suatu tujuan yang pasti…
semua seakan hanyalah ilusi..
ilusi yang tiada memiliki arti
namun akhirnya satu hal kusadarihanya
Tuhan yang sungguh mengerti,
tentang semua arti kehidupan ini..
kekosongan hati ini
tidak lagi diisi dengan benci..
tak ada yang lebih murni
dari kesucian cinta Ilahi

Read more...

All About Pizza

The term pizza covers a lot of territory. If you want to learn all about pizzas, then you should have a bit of a background on pizzas: specifically the history of pizza, pizza origin, pizza facts, and even pizza trivia such as who invented pizza. The subject also delves into the different types and styles of pizzas. The varieties currently existing defy any attempts at enumeration. Thus, most people who attempt such a task stop at a broad categorization of pizza types according to certain attributes such as crust thickness, crust elasticity, crust baking and cooking procedures, toppings, etc. Aside from general, historical or trivial information, other things are of interest to the pizza lovers. For instance, homemade
pizza enthusiasts would like to know certain tips and tricks for making pizza. This includes pizza making techniques, the best pizza crust recipes, pizza toppings, homemade pizza sauce, etc. Some other interesting topics will be frozen pizza dough and where best to attain them, what are the criteria for choosing the, what are the methods for preparing them, etc.

It must be obvious that this article is a mite ambitious for wishing to tackle something entitled "all about pizza." However, an attempt is definitely warranted, so here goes.

Some pizza facts and trivia

Accounts of pizza history always begin with the origin of pizza. This one might as well follow the same tack. We have to thank any civilization or race that baked flat bread on hot stones or stone ovens for pizza, for almost certainly, bread like the focaccia was the "mother of the pizza crust." However, the invention of the pizza is more properly attributed to the Neapolitans - the people of Naples, Italy who were baking and making pizza crust topped with tomatoes, oil, and Italian herbs, and spices. This rudimentary and traditional Italian pizza was common peasant fare in Naples. If you want an individual originator and inventor of pizzas, however, then you won't be wrong if you cite Rafaelle Esposito - a native of Naples; he modified the basic Neapolitan pizza recipe and came up with three variants that added mozzarella cheese to the rudimentary Italian pizza toppings.

Now, if you are looking for some topics for small conversation, then you must remember the following trivia. One note of caution, though; you shouldn't blurt these out just to anybody or you'll sound decidedly corny and geeky. Make sure you're talking to someone interested in pizzas before you use the following trivia as conversational gambits.

" Most people in the United States love pepperoni; the least liked toppings are anchovies.

" Pizza was called (and is still called) tomato pie and pizza pie in certain parts of the States.

" The first pizzeria in the United States was opened in New York.

" The pizza industry is worth more than 30 billion dollars in the United States alone and Americans consume around three billion units of pizza every year.

" New York pizza is traditionally plain. Supposedly, New York pizza is unique because of the acidity and hardness of the water in New York. New Yorkers therefore claim that only in New York can you make real New York Pizza.

(New Yorkers must admit, however, that if water is the unique characteristic of New York pizzas, one who uses water adjusted for hardness and acidity to reflect New York water conditions, adds all the usual New York pizza ingredients and toppings, follows all the procedures strictly but makes the pizza in New Jersey can conceivably make an authentic, New York style pizza. But such an assertion, some would say, is just plain cheek.)

Pizza types and pizza styles

The first step to a great homemade pizza is determining what type of pizza you wish to make. After all, different types of pizza have different attributes and thus call for different types of pizza base, pizza toppings and cooking techniques. Would you like to make an authentic Italian pizza, a New York style pizza, a California style pizza, or a Chicago style pizza?

Italian pizza is generally lean, although when you add cheese, its fat level generally rises in proportion. There are various kinds of Italian pizza, too. There are Neapolitan pizzas, of which there are two general types: the marinara and the Margherita. There are various combinations of these as well. Authentic Italian pizza, moreover, is supposedly baked on wood-fired or even coal-fired, stone ovens.

New York pizza, as abovementioned, is generally plain. The mainstay of New York pizza is mozzarella cheese - fresh mozzarella cheese to be precise. One can add garlic, different types of cheeses, anchovies, shrimp, etc but these are usually optional. The pizza dough recipe for traditional New York pizza, on the other hand, calls for high-gluten flour. The result is firm, usually thin, chewy pizza.

The California style pizza is generally known for gourmet flavors. You can say the California pizza has countless variations. The pizza crust, in this case, is light, crisp and generally well risen. The toppings can be out of this world - generally California pizza makers experiment a lot with all kinds of meat, sea food, breakfast dishes, and vegetable for the toppings.

The Chicago style pizza, on the other hand, is generally crusty and very filling. They are characterized by their raised edges; imagine a pre-baked apple pie crust where you can place the fillings on top. Chicago pizza is usually meaty (some variants come stuffed with cheeses and meat layers) and it is eaten with a knife and fork.

You can also start by deciding on the flavor you want. Do you want to make a cheese pizza, a vegetarian pizza or a fruit pizza? Perhaps you want to make a low fat pizza, a low carb pizza, a healthy pizza? Sourdough pizza is also another variant.

Take your pick among your many options. Once you have decided, choosing the recipe would be much easier. If you have decided on an Italian pizza, for instance, then find your Italian pizza crust recipe, your Italian pizza sauce recipe and the overall Italian pizza recipe that will give you a list of toppings and pizza preparation procedures for making an authentic Italian pizza. For an easier time of it, you can opt to use Italian-style frozen pizza dough then just follow the Italian pizza recipe that you've found.

Some pizza making tips and techniques

Hand tossing will help you minimize the lumps in your pizza dough. However, this should be done only after sufficient pizza dough kneading. This process lets your pizza dough develop into the right kind of consistency - that which is suitable for stretching and hand tossing. Hand tossing, however, is not advisable for thick pizza crust varieties.

If you want a crisp and firm pizza that retains its structure even when the moist toppings are added, you can bake the pizza crust before you add the toppings and the pizza sauce. However, for thin pizza crusts, baking the crust after the toppings and sauce have been added is sufficient. For uniform baking and crisping of the crust, use a pizza stone or a pizza screen.

Finally, remember that the protein content of your flour will influence the end product. High-gluten flour will lead to a crisp but chewy crust. Gluten-free flour, however, may lead to very soft dough; additives may have to be used to give the pizza dough strength.

Quick pizza crust recipes and easy homemade pizza recipes of all kinds and style are easily available online. There are tips for baking and preparing frozen pizza dough, making your own pizza dough, preparing the ingredients for the best pizza crust recipe, etc. All you need to start making your very own pizza recipe is an internet connection, a good source of basic pizza recipe, great pizza equipment, your imagination, and lots of time and resources for experimentation.

Read more...

sahabat cewek untuk cowok

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih
sayangnya pada orang disekitarnya. ...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari
kelembutannya mengatakan kebenaran... ..

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi
dari sikap bersahabatnya pada sesama manusia ...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat
bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap
bijaknya memahami persoalan...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati
yang ada dibalik itu...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi
komitmennya terhadap wanita yang dicintainya. ..

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi
dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan...

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi
dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.

Read more...

jurus comblang yang ampuh

Rekan kerja Anda yang tampan dan punya karir sukses itu masih single. Demikian juga dengan sahabat Anda yang cantik tapi suka pilih-pilih pacar. Anda pun mulai menyusun rencana untuk menjodohkan mereka. Eit, tunggu dulu, jangan sembarangan jadi mak comblang. Menurut Dr. Jan Yager, penulis buku 125 Ways to Meet the Love of Your Life, ada beberapa rambu yang perlu Anda patuhi.

1. Motivasi dan Niat
Pastikan motivasi Anda melakukan perjodohan tersebut adalah untuk melihat sahabat Anda bahagia dengan pria yang akan dikenalkan. Jangan sampai di tengah jalan Anda justru baru sadar kalau ternyata Anda juga jatuh cinta pada pria tersebut. Anda juga harus siap mental jika hubungan mereka kandas di tengah jalan dan sang sahabat justru menyalahkan Anda.

2. Kuasai ilmu menjodohkan
Yakinkan dulu apakah sahabat Anda sudah siap untuk membuka hati. Mungkin saja ia masih sakit hati karena kegagalan cinta yang lalu. Apa yang membuat Anda berpikir dua orang tersebut cocok, selain keduanya masih jomblo? Apakah mereka memiliki minat, hobi, serta profesi yang sama? Mak comblang yang baik juga perlu mempertimbangkan adanya chemistry dan kecocokan di antara “kliennya”.

3. Berikan detail, tapi jangan berlebihan
Berikan pada tiap orang deskripsi yang akurat satu sama lain, tetapi tentang hal yang umum saja, seperti kepribadian, penampilan, dan pekerjaan. Anda tidak perlu menyebutkan kebiasaan buruk sahabat pada teman pria Anda, demikian pula sebaliknya.

4. Atur pertemuan
Makan malam bersama 5-6 orang akan mejadi acara yang menyenangkan, fun,dan tidak menekan untuk dua orang yang baru pertama bertemu. Saat pertemuan, perkenalkan mereka berdua, dan biarkan percakapan mengalir apa adanya. Bila mereka tak berminat untuk bertemu lagi, jangan memaksa. Tugas Anda adalah mengenalkan mereka dan melihat apa yang akan terjadi.

5. Jangan memaksa
Setelah pertemuan, Anda tak perlu memaksa mereka untuk merancang kencan. Bila sahabat menolak calon yang Anda sodorkan, Anda bisa mendengarkan pendapatnya tentang tipe pacar yang memang ia cari. Barangkali di masa depan Anda menemukan kandidat yang cocok untuknya.

by google


Read more...

pilih hidangan pesta

JANGANLAH Anda menyediakan menu hidangan yang asal-asalan saat menggelar pesta pernikahan. Tidak hanya tamu undangan yang kecewa, tetapi Anda pun akan menanggu rasa malu karena acara bahagia Anda tidak berjalan sukses.

Kini Anda tak perlu pusing untuk menyiasatinya, karena Femalefirst akan berbagi saran kepada Anda.

Jangan memilih menu yang aneh atau kalian tidak sukai

Anda harus menyadari bahwa acara pernikahan yang Anda gelar nanti akan dihadiri oleh kerabat dekat, teman-teman, dan tamu undangan lainnya. Jadi janganlah memilih menu ?aneh', yang Anda dan orang lain tidak sukai. Pilihlah menu-menu yang sudah mereka kenal sebelumnya.

Pilihlah menu makanan yang aman bagi semua pihak

Tidak semua undangan yang hadir di pesta pernikahan Anda memiliki keyakinan yang sama. Oleh karena itu tidak seharusnya Anda menyediakan makanan yang menjadi pantangan mereka. Hal ini bertujuan agar menu yang Anda hidangkan tidak terbuang sia-sia.

Tambahkan menu vegetarian

Tidak semua orang mengonsumsi daging, tetapi memilih sayuran hijau dan buah-buahan dalam menu mereka sehari-hari. Kini Anda pun tidak salah bila menyediakan menu tersebut di acara pesta Anda. Siapa tahu undangan yang hadir banyak yang berstatus vegetarian.

Hindari menyediakan minuman keras

Selain memberikan dampak yang tidak baik pada kesehatan, minuman keras juga memberikan efek yang memabukkan bagi yang meminumnya. Oleh karena itu Anda tidak perlu memasukkannya ke dalam daftar menu wajib pesta pernikahan Anda. Bisa saja momen penting ini menjadi rusak akibat salah satu tamu undangan yang mabuk dan membuat keributan di tengah-tengah pesta.

Read more...

bingung pilih pasangan

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, “Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan”

Rasulullah pun bersabda, “Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya” (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, “Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak.” Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, “Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan”

Rasulullah pun bersabda, “Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya” (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, “Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak.” Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, “Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan”

Rasulullah pun bersabda, “Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya” (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, “Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak.” Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

by google


Read more...

Can Data Breaches Be Expected From Bankrupt Mortgage Lenders?

The stock market is in a tumult. Actually, it has been for about a year, ever since the subprime fiasco (anyone take a look at Moody's performance over the past year?) Now that that particular issue has been beaten to death, other mortgage related issues are cropping up. Most of the stuff covered in the media is financial in nature, but some of those mortgage related issues do concern information security.

It's no secret that there are plenty of companies in the US that discard sensitive documents by dumping them unceremoniously: leave it by the curb, drive it to a dumpster, heave it over the walls of abandoned property, and other assorted mind boggling insecure practices. In fact, MSNBC has an article on this issue, and names numerous bankrupt mortgage companies whose borrowers' records were found in dumpsters and recycling centers. The information on those documents include credit card numbers and SSNs, as well as addresses, names, and other information needed to secure a mortgage.

Since the companies have filed for bankruptcy and are no more, the potential victims involved have no legal recourse, and are left to fend for themselves. In a way, it makes sense that companies that have filed for bankruptcy are behaving this way. (Not that I'm saying this is proper procedure.) For starters, if a company does wrong, one goes after the company; however, the company has filed for bankruptcy, it is no more, so there's no one to "go after." In light of the company status, this means that the actual person remaining behind to dispose of things, be they desks or credit applications, can opt to do whatever he feels like. He could shred the applications. He could dump them nearby. He could walk away and let the building's owner take care of them. What does he care? It's not as if he's gonna get fired.

Also, proper disposal requires either time, money, or both. A bankrupt company doesn't have money. It may have time, assuming people are going to stick around, but chances are their shredder has been seized by creditors. People are not going to stick around to shred things by hand, literally.

Aren't there any laws regulating this? Apparently, such issues are covered by FACTA, the Fair and Accurate Credit Transactions Act, and although its guidelines require that "businesses to dispose of sensitive financial documents in a way that protects against 'unauthorized access to or use of the information'" [msnbc.com], it stops short of requiring the physical destruction of data. I'm not a lawyer, but perhaps there's enough leeway in the language for one to go around dropping sensitive documents in dumpsters?

Like I mentioned before, inappropriate disposal of sensitive documents has been going on forever; I'm pretty sure this has been a problem since the very first mortgage was issued. My personal belief is that most companies would act responsibly and try to properly dispose of such information. But, this may prove to be a point of concern as well because of widespread misconceptions of what it means to protect data against unauthorized access.

What happens if a company that files for bankruptcy decides to sell their company computers to pay off creditors? Most people would delete the information found in the computer, and that's that-end of story. Except, it's not. When files are deleted, the actual data still resides in the hard disks; it's just that the computer's operating system doesn't have a way to find the information anymore. Indeed, this is how retail data restoration applications such as Norton are able to recover accidentally deleted files.

Some may be aware of this and decide to format the entire computer before sending it off to the new owners. The problem with this approach is the same as deleting files: data recovery is a cinch with the right software. Some of them retail for $30 or less-as in free. So, the sensitive data that's supposed to be deleted can be recovered, if not easily, at least cheaply-perhaps by people with criminal interests.

Am I being paranoid? I don't think so. I've been tracking fraud for years now, and I can't help but conclude that the criminal underworld has plenty of people looking to be niche operators, not to mention that there are infinitesimal ways of defrauding people (look up "salad oil" and "American Express," for an example). An identification theft ring looking to collect sensitive information from bankrupt mortgage dealers wouldn't surprise me, especially in an environment where such companies are dropping left and right.

The economics behind it make sense as well. A used computer will retail anywhere from $100 to $500. The information in it, if not wiped correctly, will average many times more even if you factor in the purchase of data recovery software. Criminals have different ways of capitalizing on personal data, ranging from selling the information outright to engaging in something with better returns.

Is there a better way to protect oneself? Whole disk encryption is a way to ensure that such problems do not occur: One can just reformat the encrypted drive itself to install a new OS; the original data remains encrypted, so there's no way to extract the data. Plus, the added benefit is that the data is protected in the event that a computer gets lost or stolen. However, commonsense dictates that encryption is something ongoing concerns sign up for, not businesses about to go bankrupt. My guess is that sooner or later we'll find instances of data breaches originating from equipment being traced back to bankrupt mortgage dealers.

The stock market is in a tumult. Actually, it has been for about a year, ever since the subprime fiasco (anyone take a look at Moody's performance over the past year?) Now that that particular issue has been beaten to death, other mortgagerelated issues are cropping up. Most of the stuff covered in the media is financial in nature, but some of those mortgagerelated issues do concern information security.

It's no secret that there are plenty of companies in the US that discard sensitive documents by dumping them unceremoniously: leave it by the curb, drive it to a dumpster, heave it over the walls of abandoned property, and other assorted mindboggling insecure practices. In fact, MSNBC has an article on this issue, and names numerous bankrupt mortgage companies whose borrowers' records were found in dumpsters and recycling centers. The information on those documents include credit card numbers and SSNs, as well as addresses, names, and other information needed to secure a mortgage.

Since the companies have filed for bankruptcy and are no more, the potential victims involved have no legal recourse, and are left to fend for themselves. In a way, it makes sense that companies that have filed for bankruptcy are behaving this way. (Not that I'm saying this is proper procedure.) For starters, if a company does wrong, one goes after the company; however, the company has filed for bankruptcy, it is no more, so there's no one to "go after." In light of the company status, this means that the actual person remaining behind to dispose of things, be they desks or credit applications, can opt to do whatever he feels like. He could shred the applications. He could dump them nearby. He could walk away and let the building's owner take care of them. What does he care? It's not as if he's gonna get fired.

Also, proper disposal requires either time, money, or both. A bankrupt company doesn't have money. It may have time, assuming people are going to stick around, but chances are their shredder has been seized by creditors. People are not going to stick around to shred things by hand, literally.

Aren't there any laws regulating this? Apparently, such issues are covered by FACTA, the Fair and Accurate Credit Transactions Act, and although its guidelines require that "businesses to dispose of sensitive financial documents in a way that protects against 'unauthorized access to or use of the information'" [msnbc.com], it stops short of requiring the physical destruction of data. I'm not a lawyer, but perhaps there's enough leeway in the language for one to go around dropping sensitive documents in dumpsters?

Like I mentioned before, inappropriate disposal of sensitive documents has been going on forever; I'm pretty sure this has been a problem since the very first mortgage was issued. My personal belief is that most companies would act responsibly and try to properly dispose of such information. But, this may prove to be a point of concern as well because of widespread misconceptions of what it means to protect data against unauthorized access.

What happens if a company that files for bankruptcy decides to sell their company computers to pay off creditors? Most people would delete the information found in the computer, and that's that-end of story. Except, it's not. When files are deleted, the actual data still resides in the hard disks; it's just that the computer's operating system doesn't have a way to find the information anymore. Indeed, this is how retail data restoration applications such as Norton are able to recover accidentally deleted files.

Some may be aware of this and decide to format the entire computer before sending it off to the new owners. The problem with this approach is the same as deleting files: data recovery is a cinch with the right software. Some of them retail for $30 or less-as in free. So, the sensitive data that's supposed to be deleted can be recovered, if not easily, at least cheaply-perhaps by people with criminal interests.

Am I being paranoid? I don't think so. I've been tracking fraud for years now, and I can't help but conclude that the criminal underworld has plenty of people looking to be niche operators, not to mention that there are infinitesimal ways of defrauding people (look up "salad oil" and "American Express," for an example). An identification theft ring looking to collect sensitive information from bankrupt mortgage dealers wouldn't surprise me, especially in an environment where such companies are dropping left and right.

The economics behind it make sense as well. A used computer will retail anywhere from $100 to $500. The information in it, if not wiped correctly, will average many times more even if you factor in the purchase of data recovery software. Criminals have different ways of capitalizing on personal data, ranging from selling the information outright to engaging in something with better returns.

Is there a better way to protect oneself? Whole disk encryption is a way to ensure that such problems do not occur: One can just reformat the encrypted drive itself to install a new OS; the original data remains encrypted, so there's no way to extract the data. Plus, the added benefit is that the data is protected in the event that a computer gets lost or stolen. However, commonsense dictates that encryption is something ongoing concerns sign up for, not businesses about to go bankrupt. My guess is that sooner or later we'll find instances of data breaches originating from equipment being traced back to bankrupt mortgage dealers.

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP